#navbar-iframe{opacity:0.0;filter:alpha(Opacity=0)} #navbar-iframe:hover{opacity:1.0;filter:alpha(Opacity=100, FinishedOpacity=100)}

Friday, March 6, 2009

Efek Komunikasi Massa


Efek Komunikasi Massa

Komunikasi massa merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat menggerakkan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, efek atau hasil yang dapat dicapai oleh komunikasi yang dilaksanakan melalui berbagai media (lisan, tulisan, visual/audio visual) perlu dikaji melalui metode tertentu yang bersifat analisis psikologis dan analisis sosial. Yang dimaksud dengan analisis psikologi adalah kekuatan sosial yang merupakan hasil kerja dan berkaitan dengan watak serta kodrat manusia.

Donald K Robert mengungkapkan, “efek hanyalah perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan media massa”. Oleh karena fokusnya adalah pesan, maka efek harus berkaitan dengan pesan yang disampaikan oleh media massa.

Dalam proses komunikasi, pesan dalam media massa dapat menerpa seseorang baik secara langsung mapun tidak langsung. Oleh karena itu, Stamm menyatakan “efek komunikasi massa terdiri atas primary effect dan secondary effect.

Menurut Steven M Chaffee, efek media massa dapat dilihat dari tiga pendekatan. Pendekatan pertama adalah efek dari media massa yang berkaitan dengan pesan ataupun media itu sendiri. Pendekatan kedua adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa yang berupa perubahan sikap, perasaan dan perilaku atau atau dengan istilah lain dikenal sebagai observasi terhadap khalayak (individu, kelompok, organisasi, masyarakat atau bangsa) yang dikenai efek komunikasi massa.

1. Efek Kehadiran Media Massa

Mc Luhan mengemukakan media is the message, media adalah pesan itu sendiri. Oleh karena itu, bentuk media saja sudah mempengaruhi khalayak. Menurut Steven M. Chaffee, ada lima jenis efek kehadiran media massa sebagai benda fisik, yaitu :

a. Efek Ekonomi, kehadiran media massa memberikan berbagai usaha produksi, distribusi, dan konsumsi jasa media massa.

b. Efek Sosial, berkatian dengan perubahan pada struktur atau interaksi social sebagai akibar dari kehadiran media massa

c. Penjadwalan Kegiatan Sehari-hari, Kehadiran media massa membuat aktivitas sehari-hari berpangaruh terhadap adanya media. Di pagi hari, biasanya masyarakat kota membaca Koran dahulu, Di malam hari, dimana anak-anak seharusnya tidur, tapi malah menonton tv.

d. Efek Hilangnya Perasaaan Tidak Nyaman, orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan psikologisnya dengan tujuan untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman, perasaan kesepian, marah, kesel, kecewa dan sebagainya.

e. Efek menumbuhkan Perasaan Tertentu, terkadang seseorang akan mempunyai perasaan positif atau negative terhadap media tertentu. Misalnya orang akan mempunyai perasaan positif terhadap Koran Kompas dari pada Koran Pos Kota. Tumbuhnya perasaan senang atau percaya pada suatu media massa tertentu erat kaitannya dengna pengalaman individu bersama media massa tersebut.

2. Efek Pesan

Dalam bagian ini akan dibahas mengenai efek pesan media massa yang meliputi efek kognitif, efek afektif, efek behavioral.

a. Efek Kognitif

Akibat yang timbul pada diri komunikasn yang sifatnya informative bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini akan dibahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya.

Dengan berlangganan Koran Pos Kota, kita akan menduga bahwa dunia ini dipenuhi denga tindakan perkosaan, penganiyaan dan criminal. Dengan melihat acara criminal di televisi, kita cenderung mengatakan bahw di sekitar kita sudah tidak aman lagi. Dengan demikian jelaslah bahwa naik surat kabar maupun televise dapat menonjolkan situasi atau orang tertentu di atas situasi atau orang yang lain.

Media massa melaporkan dunia nyata secara selektif, maka sudah tentu media massa akan mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan social yang timpang, bias dan tidak cermat. Media massa melaporkan dunia nyata secara selektif maka sudah tentu media massa akan mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan social yang timpang, bias dan tidak cermat.

Efek Prososial Kognitif adalah bagaimana media massa memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat. Bila televise menyebabkan kita lebih mengerti tentang bahasa Indonesia yang baik da benar, maka televisi telah menimbulkan efek prososial kognitif. Film Sesame Street yang dirancang para pendidik, psikolog dan ahli media massa. Setelah melalui berbagai penelitian, terbukti film ini telah berhasil mempermudah proses belajar.

b. Efek Afektif

Efek ini kadarnya lebih tingga daripada efek kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya.

Kegembiraan juga tidak dapat diukur dengan tertawa keras ketika menyaksikan adegan lucu. Tetapi para peneliti telah berhasil menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas rangsangan emosional pesan media massa. Faktor-faktor tersebut antara lain :

- Suasana emosional, menonton sebih sinetron di televisi atau membaca novel akan dipengaruhi oleh suasana emosional kita. Adegan-adegan lucu akan menyebabkan kita tertawa terbahak-bahak bila kita menontonnya dalam keadaan senang.

- Skema Kognitif, merupakan naskah yang ada dalam pikiran kita yang menjelaskan tentang alur peristiwa. Kita tau bahwa dalam sebuah film action ‘sang jagoan; pada akhirnya akan menang.

- Suasana Terpaan (Setting Exposure), Tayangan misteri di tv, membuat kita berpikir bahwa kehidupan mahluk itu adalah sebagaimana yang kita lihat dalam film atau sinetron tersebut.

- Predisposisi Individual, mengacu pada karakteristik khas individu. Orang yang melankolis cenderung menanggapi trahdi lebih emosional daripada orang yang periang. Orang yang periang akan senang bila melihat adegan-adegan lucu atau film komedi daripada orang yang melankolis. Beberapa pnelitian membuktikan bahwa acra yang sama bisa ditanggapi berlainan oleh orang-orang yang berbeda.

- Faktor Identifikasi, menunjukkan sejauhmana orang merasa terlibat dengan tokoh yang ditonjolkan dalam media massa. Dengan identifikasi, penonton, pembaca atau pendengar menempatkan dirinya dalam posisi tokoh tersebut.



c. Efek Behavioral

Merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk prilaku, tindakan atau kegiatan. Adegan kekerasan di TV membuat orang menjadi beringas. Siaran memasak di tv membuat ibu-ibu lebih gemar memasak dan kreatif. Namun ada juga laporan bahwa, televise gagal mendorong pemirsanya untuk menabung di Bank. Film tidak sanggup memotivasi remaja perkotaan untuk menghindari pemakaian obat-obat terlarang.

Mengapa terjadi efek yang berbeda? Belajar dari media massa tidak bergantung hnaya pada unsure stimulus yang ada pada media massa saja. Kita memerlukan teori, menuut teori belajar Sosial dari bandura, orang cenderungmeniru prilaku yang diamati. Stimulus menjadi teladan untuk perilakunya. Penyajian kekerasan dalam media massa menyebabkan orang melakukan kekerasan pula. Jadi sejauh ini, tampaknya teori belajar sosial dapat diandalkan untuk menjelaskan efek behavioral media massa.



II Sosial Media Massa

Media massa secara pasti mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Media membentuk opini public untuk membawakannya pada perubahan yang signifian. Kampanye nasional larangan merokok di tempat-tempat umum memiliki kekuatan pada pertengahan tahun 1990-an dengan membanjirnya berita-berita tentang bahaya merokok bagi perokok pasif. Disini secara instant media massa dapat membentuk kristalisasi opini public untuk melakukan tindakan tertentu. Kadang-kadang kekuatan media massa hanya sampai pada ranah tertentu.

Dominick menyebutkan tentang dampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi dan sikap orang-orang. Media massa, terutama televise yang menjadi agen sosialiasasi (penyebaran nilai-nilai) memainkan peranan penting dalam transmisi sikap, persepsi dan kepercayaan.

Read more...

Tuesday, March 3, 2009

Pengertian dan Fungsi Teori Dalam Komunikasi



Pengertian dan Fungsi Teori Dalam Komunikasi

Pengertian Teori

Penjelasan gejala alam secara cermat sehingga kita dapat melakukan prediksi. Bila penjelasan ini telah diuji berkali – kali dan terbukti benar, penjelasan ini dinamakan teori. Kerlinger ( dalam Jalaludin, 2000;06 ) menyebutkan bahwa teori adalah himpunan konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.

Definisi di atas melukiskan ciri – ciri teori ilmiah. Secara terinci teori ilmiah ditandai olej hal – hal berikut (dalam Jalaludin, 2000;06 ) :

1. Teori terdiri dari proporsisi – proporsisi. Proporsisi adalah hubungan yang terbukti di antara berbagai vatiabel. Proporsisi ini biasanya dinyatakan dalam bentuk ”jika, maka”.

2. Konsep – konsep dalam proporsisi telah dibatasi pengertiannya secara jelas. Pembatasan konsep ini menghubungkan abstraksi dengan dunia empiris.

3. Teori harus mungkin diuji, diterima atau ditolak kebenarannya. Pembatasan pengertian konsep yang dipergunakan menyiratkan kemungkinan pengujian teori.

4. Teori harus dapat melakukan prediksi. Teori agresi dapat meramalkan bahwa bila guru selalu menghambat tingkah laku anak, frekuensi agresi akan bertambah.

5. Teori harus dapat melahirkan proporsisi – proporsisi tambahan yang semula tidak diduga.

Fungsi Teori

Ada bermacam – macam fungsi teori dari beberapa ahli. Seperti yang diungkapkan oleh Littlejohn yang menyatakan 9 fungsi dari teori, yakni :


1. Mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal. Ini berarti bahwa dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukan secara sepotong-sepotong. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan nyata. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan yang diperoleh dari pola atau hubungan itu kemudian disimpulkan. Hasilnya (berupa teori) akan dapat dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya studi berikutnya.


2. Memfokuskan. Teori pada dasarnya menjelaskan tentang sesuatu hal, bukan banyak hal.


3. Menjelaskan. Teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Misalnya mampu menjelaskan pola-pola hubungan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu.


4. Pengamatan. Teori tidak sekedar memberi penjelasan, tapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya, berupa konsep-konsep operasional yang akan dijadikan patokan ketika mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.


5. Membuat predikasi. Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermin dalam kehidupan di masa sekarang. Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi terapan seperti persuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, public relations dan media massa.


6. Fungsi heuristik atau heurisme. Artinya bahwa teori yang baik harus mampu merangsang penelitian selanjutnya. Hal ini dapat terjadi apabila konsep dan penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.


7. Komunikasi. Teori tidak harus menjadi monopoli penciptanya. Teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap kritikan-kritikan, yang memungkinkan untuk menyempurnakan teori. Dengan cara ini maka modifikasi dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.


8. Fungsi kontrol yang bersifat normatif. Asumsi-asumsi teori dapat berkembang menjadi nilai-nilai atau norma-norma yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.


9. Generatif. Fungsi ini terutama menonjol di kalangan pendukung aliran interpretif dan kritis. Menurut aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.

2. Paradigma – paradigma dalam Ilmu Komunikasi

Usaha untuk mengelompokkan teori – teori dan pendekatan kedalam sejumlah paradigma yang dilakukan sejauh ini telah menghasilkan pengelompokan yang sangat bervariasi. Kinloch (1977), contohnya, mengidentifikasi sekurangnya ada 6 paradigma atau perspektif teoretikal (Organic paradigm, Conflict paradigm, Social Behaviorism, StructureFunctionalism, Modern Conflict Theory, dan Social-Psychological paradigm). Tetapi Crotty (1994) mengelompokkan teori-teori sosial antara lain ke dalam Positivism, Interpretivism, Critical Inquiry, Feminism, dan Postmodernism. Burrel dan Morgan (1979), telah mengelompokkan teori – teori dan pendekatan dalam ilmu – ilmu sosial ke dalam 4 paradigma : Radical Humanist Paradigm, Radical StructuralisParadigm, Interpretive Paradigm, dan Functionalist Paradigm. Namun bahasan mereka tidak secara jelas menunjukkan implikasi metodologi dari masing – masing paradigma. Sementara itu Guba dan Lincoln (1994) mengajukan tipologi yang mencakup 4 paradigma : Positivism,Postpositivism,Critical Theories et al,dan Constructivism, masig – masing dengan implikasi metodologi tersendiri ( Hidayat, 2003;02 ).

Tetapi sejumlah ilmuwan sosial lain melihat positivism dan postpositivism bisa disatukan sebagai classical paradigm karena dalam prakteknya implikasi metodologi keduanya tidak jauh berbeda. Karena itu pula, untuk mempermudah kepentingan bahasan tentang implikasi metodologi dari suatu paradigma, maka teori – teori dan penelitian ilmiah komunikasi cukup dikelompokkan ke dalam 3 paradigma, yakni : 1) Classical Paradigm ( yang mencakup positivism dan postpositivism ), 2) Critical Paradigm, dan 3) Constructivism Paradigm ( Hidayat, 2003;02-03 ).

TIGA PERSPEKTIF / PARADIGMA ILMU SOSIAL

PARADIGMA

KLASIK

PARADIGMA KONSTRUKTIVISME

PARADIGMA

TEORI – TEORI KRITIS

Menempatkan ilmu sosial seperti halnya ilmu-ilmu alam dan fisika, dan sebagai metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductivelogic dengan pengamatan empiris, guna secara probabilistik menemukan – atau memperoleh konfirmasi tentang – hukum sebab akibat yang bisa digunakan memprediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu.

Memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian yang alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara / mengelola dunia sosial mereka.

Mendefinisikan ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkap ”the real structures” dibalik ilusi, false needs, yang dinampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar memperbaiki dan merubah kondisi kehidupan manusia

( Hidayat, 2003;03 )

3. Hubungan Teori Dalam Penelitian Ilmiah Komunikasi

Suatu penelitian ilmiah selalu dimulai dengan suatu perencanaan yang seksama. Perencanaan ini dalam bidang ilmiah mana pun mengikuti suatu logika yang sama, karena pada pokoknya suatu perencanaan merupakan serentetan petunjuk – petunjuk yang disusun secara logis dan sistematis. Suatu perencanaan yang baik membutuhkan pemikiran yang seksama, sehingga sering kali memakan waktu yang jauh lebih lama daripada diperkirakan semula. Namun waktu dan pemikiran yang digunakan itu tak akan sia – sia, karena diterimanya usul suatu penelitian atau berhasil tidaknya penelitian itu, sebagian besar ditentukan dengan perencanaannya.

Suatu perencanaan liputan dapat dibagi ke dalam delapan lagkah sebagai berikut : (1) pemilihan persoalan; (2) penentuan ruang lingkup; (3) pemeriksaan tulisan – tulisan yang bersangkutan; (4) perumusan kerangka teoritis; (5) penentuan konsep – konsep; (6) perumusan hipotesa – hipotesa; (7) pemilihan metode pelaksanaan penelitian; (8) perencanaan sampling ( Koentjaraningrat, 1985;14 )

Sehingga dapat terlihat bahwa adanya keterkaitan erat antara teori komunikasi dengan sebuah penelitian ilmiah. Dikarenakan sebuah teori merupakan salah satu pondasi dimana seseorang akan membangun sebuah konstruksi penelitian ilmiah.

Read more...

Wednesday, January 28, 2009

FATWA MUI, Kontrol Sosial Ataukah Pemborgolan HAM



Fatwa MUI, Kontrol Sosial Ataukah Pemborgolan HAM

Baru - baru ini MUI mengeluarkan fatwa bahwa merokok, golput, serta senam kesehatan yoga adalah haram. Fatwa yang disampaikan oleh Ketua MUI KH Ma’ruf Amin menelurkan berbagai kontroversi di masyarakat. Bagaiamana tidak Fatwa tersebut merujuk kepada pemborgolan Hak Asasi Manusia akan tetapi dilain pihak fatwa tersebut nyaring didengungkan sebagai bentuk perlawanan terhadap bahaya asap rokok, dan kemurnian agama.

Menilik dari fatwa haram merokok yang dikeluarkan MUI tersebut terlihat bahwa pandangan MUI sebagai Majelis Islam sangat sempit dan terlalu subyektif. Merokok merupakan sebuah konstruksi yang terjadi di masyarakat secara budaya turunan. Masyarakat Indonesia sekarang ini masih dalam pola meniru. Jika dalam sebuah keluarga ada yang perokok pasif maka besar kemungkinan terdapat peniruan dari generasi berikutnya. Sebagai contoh jika seorang ayah menjadi perokok, 80% anaknya bisa menjadi perokok pula. Dan yang lebih parah dari itu adalah para generasi baru atau anak - anak tersebut telah melakukan perbuatan haram. Ingat bahwa jika melakukan perbuatan haram di agama Islam ganjarannya adalah neraka. Sungguh ironi sekali.

Disamping itu apakah MUI melihat jutaan buruh rokok yang ada di Indonesia? Mereka yang sebagian besar adalah pemeluk agama islam menggantungkan hidupnya demi selinting tembakau yang mereka buat. Tetapi apakah buruh tersebut tahu yang mereka kerjakan adalah produk yang haram? Betapa tragisnya jika seluruh buruh tersebut kehilangan pekerjaan atau mengundurkan diri akibat fatwa tersebut. Tidak semudah itu melabelkan "haram" kepada sesuatu.

Dalam peng-"haram"-an golput pun demikian. Golput merupakan akibat adanya ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan. Dan mereka merujuk kepada tidak menggunakan hak pilihnya atas demokrasi yang sedang panas - panasnya bergulir di Indonesia. Masyarakat bebas menggunakan hak pilihnya atau tidak dalam pesta demokrasi tersebut. Ini sangat tidak pas jika para golput difatwakan menjadi haram. Apalagi jika dari sebagian besar para golput tersebut adalah para umat Islam yang taat. Belum lagi dengan senam yoga, apakah bisa dicap haram semudah itu, walaupun MUI telah merujuk dengan surat - surat yang ada di Al-quran tetapi apakah pas jika diterapkan di negara ini. Mencari kesehatan adalah hak dari seluruh masyarakat Indonesia dan seluruh masyarakat dunia.

Fatwa - fatwa MUI tersebut sekiranya kurang pas dan ganjil jika melihat pluralitas yang ada di Indonesia. Masih bersikap subyektif terhadap segala sesuatu hal yang bersifat agama. MUI masih berpandangan ekstrem terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Seharusnya MUI lebih melihat ke hal - hal yang bersangkutan dengan fenomena yang terjadi di departemen agama, disana masih banyak tindak korupsi! Atau sekalian memberi fatwa "haram" kepada Departemen Agama.



Read more...

Tuesday, January 20, 2009

Obama


Suksesi Obama

Semalam tadi Presiden terpilih Amerika Serikat Barack "Hussein" Obama resmi menjadi pemegang tampuk pemerintahan Amerika. Sekitar 240.000 undangan menjadi saksi pengangkatan presiden Amerika ke - 44 tersebut. tepat pukul 12.00 waktu setempat atau jm 24.00 WIB Obama mengangkat sumpah menjadi presiden.

Dengan disiarkan langsung oleh CNN Obama memberikan pidato resmi presiden pertamanya di Capitol Hill. Pidato tersebut mengangkat tema akan memberantas pengangguran bagi kaum Amerika, mengimbau para penduduk untuk cermat menghadapi krisis finansial global, serta menantang para teroris secara langsung. Ia menambahkan bahwa Amerika merupakan negara yang kuat dan mampu memberantas masalah terorisme global. baik dengan dialog yang mementingkan kepntingan masing - masing ataupun dengan kekuatan Amerika yang super power.

Dalam hal ini Obama dapat menjalankan misi yang yang super sulit dan menjadi tanggung jawab yang berat. Bagaimana tidak selain dia harus mencuci piring bekas pesta buruk "bush" yang menyisakan banyak noda. Kebijakannya juga berpengaruh bagi seluruh negara berkembang. Yang menjadi pertanyaan, apakah seorang anak menteng ini dapat melakukan perubahan yang dinantikan itu semua?? Ataukah hanya janji - janji surga yang Ia lontarkan dikampanye semata?

Fakta yang terjadi adalah Ia meraup keuntungan dari kampanye kemarin lebih dari $40 juta dollar yang sebagian besar dari perusahaan software raksasa google. Dengan biaya tersebut Obama dapat seperti pisau bermata dua. Menjalankan sebuah pemerintahan yang berimbas keberbagai negara, khususnya adanya pemberhentian perang irak yang telah menewaskan lebih dari 1400 warga Irak. Ataukah akan menambah berbagai Invansi lain ke negara - negara potensial penghasil minyak dunia. Hal ini bisa kita lihat kedepan. Apakah akan terjadi perdamaian global ataukah Where Next Invansion...

Read more...

Thursday, January 15, 2009

SUKSES Adalah Berani Bermimpi


Sukses Adalah Berani Bermimpi

Semua orang pasti menginginkan sukses dan berhasil. Tetapi apakah yang dinamakan sukses itu ? Banyak orang yang menginginkan bisa menjadi sukses tetapi tidak jelas arti atau definisi kata sukses sendiri. Sebagian besar sukses diidentifikasikan dengan uang dan jabatan. Apakah sesempit itu kita akan mengartikannya. Lalu, apa sih yang dimaksud dengan sukses ?

Seorang Re – Educator & Mind Navigator, Adi W. Gunawan mengatakan sukses sebenarnya bukanlah suatu tempat atau tujuan akir. Sukses adalah perjalanan hidup berdasarkan peta yang kita rancang sendiri sejalan dengan tingkat kesadaran kita pada saat itu. Saat seseorang berkata bahwa ia sukses maka yang ia maksudkan sebenarnya adalahia telah mencapai suatu tahap tertentu dalam perjalanan hidupnya.

Namun jika seseorang bersikukuh bahwa ia sudah sukses maka pada saat ituia telah gagal. Mengapa ? Karena dengan sikap mental seperti itu maka sebenarnya ia telah berhenti berkembang. Peta hidup yang kita rancang sebaiknya meliputi berbagai aspek kehidupan agar hidup menjadi lebih seimbang. Yang meliputi di dalamnya aspek spiritual ( berhubungan dengan keyakinan kita ) , finansial, bisnis dan karier, keluarga, pengembangan diri, refresing, materi ilmu pengetahuan dan sosial. Jika hidup diibaratkan dengan sebuah roda maka pencapaian pada setiap aspek kehidupan sama seperti ruji yang menghubungkan poros dan roda.

Bila panjang masing – masing ruji tidak sama maka bisa dibayangkan bagaimana putaran roda kehidupan, berantakan dan tak teratur. Sering kali, hanya mengejar salah satu aspek saja, orang mengorbankan aspek lainnya. Keadaan ini menjadikan hidup tidak seimbang dan malah justru merugikan.

Memperbarui peta kehidupan

Sesuai dengan apa yang didefinisikan diatas, maka kita perlu selalu memperbarui peta kehidupan kita. Apa yang dulunya dipandang sebagai hal yang penting dalam kehidupan seiring dengan perkembangan tingkat kesadaran dan spiritusl seseorang, akirnya menjadi kurang atau bahkan menjadi tidak penting lagi. Begitu pula sebaliknya, hal yang dulunya tidak penting kini menjadi sangat penting untuk dicapai.

Sukses merupakan sebuah perjalanan diri dari satu titik ke titik berikutnya dengan akselerasi kita masing – masing. Sukses adalah perjalanan dengan titik awal namun tanpa titik akhir. Dan untuk mencapai sukses kita harus mengembangkan peta kehidupan kita dengan cara berani bermimpi. Tetapi, mimpi disini bukan berarti mimpi kita disaat kita tertidur pulas, mimpi disini adalah sebuah angan – angan atau hal – hal yang ingin kita capai dalam hidup kita. Sebuah dorongan dari dalam untuk melakukan dan meraihnya dengan kemampuan kita masing – masing. Banyak orang yang ber-mimpi sesaat setelah mereka selesai kuliah dan masuk ke kehidupan nyata karena akhirnya sadar akan ”realita” kehidupan.

Bermimpi kini merupakan suatu kecakapan yang sulit diajarkan dan dipelajari. Banyak orang yang sudah tidak mempunyai keberanian untuk bermimpi atau memikirkan impian mereka. Apakah diwaktu mendatang harus ada sebuah kurikulum yang mewajibkan seorang pelajar untuk bisa bermimpi untuk kehidupannya, atau hanya sebuah jalan bebal yang menggiring manusia menjadi robot

Untuk itulah kenapa kita harus berani bermimpi. Mencoba berkhayal untuk masa depan dan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Karena disitulah letak sukses yang sesungguhnya.

Read more...

Tuesday, January 6, 2009

POSITIVISME


1. Komunikasi menurut pandangan positivisme

Dalam pandangan positivisme komunikasi diartikan sebagai proses linear atau proses sebab akibat dimana proses pengiriman pesan untuk mengubah suatu pengetahuan dan diikuti dengan adanya perubahan sikap dan perilaku. Model komunikasi yang diterapkan adalah komunikasi satu arah yang menggunakan perpektif mekanistis. Metodologi alam digunakan dalam merumuskan data dan menyimpulkan kebenaran. Model komunikasi mekanistis merupakan model yang dipengaruhi oleh positivisme atau sosiologi.

- Metode Ilmu Alam :

Adanya jarak antara pengamat dan obyek yang diamati, sehingga obyak penelitian adalah fakta netral dan menjadikan kesimpulan yang ditarik cenderung apa adanya. Obyek dapat dimanipulasi dalam eksperimen untuk menemukan pengetahuan menurut model sebab akibat. Hasil manipulasi adalah pengetahuan dengan hukum – hukum yang niscaya atau cenderung tetap (jika..., maka...)

2. Sejarah Positivisme :

Sejarah positivisme dipelopori oleh 2 pemikir dari Perancis yaitu Henry Sain Simon 1760 – 1825 dan Auguste Comte 1798 – 1857. Comte membangun studi ilmiah terhadap masyarakat Perancis ( sosiologi ) berdasar prinsip ilmu alam. Lalu dikembangkan untuk melawan filsafat negatif dan destruktif. Comte mengkritik filsuf ”pencerahan” yang masih bergelut pada khayalan metafisika.

Gagasan Comte terdiri dari 3 tahap perkembangan sejarah manusia, yaitu : teologis, metafisis, positivis. Positivisme yang dikembangkan Comte disebut positivisme Sosial, Ia meyakini bahwa kehidupan sosial hanya dapat dicapai melalui penerapan ilmu – ilmu positiv. Dari gagasan tersebut kemudian muncul Positivisme Evolusioner yang dipelopori oleh Charles Lyell, Charles Darwin, Herbert Spencer yang menyakini bahwa interaksi manusia dengan alam semesta sebagai penentu kemajuan.

Pada tahun 1920 muncul Positivisme Logis di Austria yang dipelopori oleh Rudolph Carnapp, Alfredd Ayer, dan Bertrand Russel yang menitik beratkan bahwa aliran positivisme fokus pada logika dan bahasa ilmiah.

3. Gagasan Positivisme

Gagasan – gagasan positivisme yang dikembangkan para pemikir cenderung melihat berdasarkan apa yang berdasarkan fakta obyektif, nyata, pasti, tepat, dan berguna sehingga memiliki kesahihan yang mutlak. Mereka mencoba melihat bahwa pengetahuan tentang suatu benda dapat dipakai meramalkan benda itu di masa datang. Demikian pula pengetahuan tentang masyarakat, dengan demikian ilmu sosial dapat membantu penciptaan susunan masyarakat sesuai teori. Prinsipnya ”Savoir Pour Prevoir” atau mengetahui untuk meramalkan. Dengan merujuk pada hukum deduktif – nomologis.

Positivisme adalah aliran filsafat ilmu yang didasarkan pada asumsi – asumsi :

1. Ontologis

Adanya realisme , ilmu pengetahuan yang bertujuan menemukan hukum – hukum kausalitas. Merupakan realisme naif atau obyektivistik.

2. Epistemologi

Adanya dualisme, teori menggambarkan semesta apa adanya tanpa keterlibatan nilai subjektif peneliti.

3. Metodologi

Adanya eksperimental, dengan menyusun hipotesis.

Doktrin positivisme adalah kesatuan ilmu, bahwa keabsahan ilmu harus disandarkan pada kesatuan metode dan bahasa. Kriteria batas – batas ilmu pengetahuan : 1) Prosedur ilmu alam dapat langsung diterapkan pada ilmu sosial. 2) Hasil riset dapat dirumuskan dalam hukum – hukum. 3) Ilmu sosial harus bersifat teknis dan bersifat bebas nilai (tidak bersifat etis, tidak terkait dengan dimensi politik ).

Tiga prinsip positivisme :

  1. Prosedur ilmu alam dapat langsung diterapkan pada ilmu sosial.
  2. Hasil riset dapat dirumuskan dalam hukum – hukum.
  3. Ilmu sosial harus bersifat teknis dan bersifat bebas nilai ( tidak bersifat etis, tidak terkait dengan dimensi politik )

Ciri – ciri positivisme :

  1. Bebas nilai : nilai – nilai pengamat tidak dilibatkan ketika melakukan pengamatan, sehingga kesimpulan ”apa adanya”
  2. Fenomenalisme : apa yang diamati merupakan fenomena belaka
  3. Nominalisme : kebenaran terletak pada penamaan, bukan pada kenyataan itu sendiri.
  4. reduksionisme : menyederhanakan kenyataan menjadi fakta – fakta yang dapat direduksi.

Read more...

Tuesday, December 23, 2008

SEPATU AL ZAIDI

SEPATU BERHARGA SEORANG JURNALIS


Baru saja terjadi kehebohan di sela - sela sidang pidato George W. Bush. seorang jurnalis televisi Irak melakukan aksi heroik dengan melempar kedua sepatunya ke arah muka mantan presiden Amerika tersebut. Kejadian ini, saya pikir adalah sebuah akumulasi dari kebencian yang dialami pasca perang Irak. Montazer Al Zaidi, wartawan jaringan televisi Al Baghdadiah, melakukan tindakan tersebut dengan sadar dan memang berniat melempar sebagai tindakan perlawana bagi kaum Irak yang selama ini tertindas atas perang yang tidak masuk akal.

Bagaimana tidak, seorang reporter tersebut meneriakkan dengan lantang " Ini buat para janda, anak - anak yang kehilangan orang tua, dan semua orang yang tertindas!!". Dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa Al Zaidi mencurahkan bentuk kemarahannya terhadap Bush dengan melempar sepasang sepatunya. Yang perlu diketahui bahwa melempar alas kaki merupakan sebuah bentuk penghinaan bagi seseorang. Ini merupakan peristiwa yang sangat heroik dimana seorang jurnalis dapat menjunjung tinggi harga diri bangsanya.

Menurut saya, ini sesuatu yang mungkin dilakukan oleh setiap orang Irak jika bertemu secara langsung oleh penggagas perang irak selama 2 kali kepemimpinan negara Amerika. Dan saya sangat setuju sekali atas apa yang dilakukan oleh reporter tersebut. Kejadian ini merupakan titik balik sebuah perang yang selama ini menindas, membunuh, serta menyengsarakan sebuah negara. yang dimana banyak sekali warga sipil yang tidak tahu apa - apa mengalami trauma, cacat, serta kehilangan nyawanya sebagai bentuk kompensasi perang Irak atau bisa dibilang perang konyol sebuah ketakutan Amerika terhadap perkembangan Irak.

Meskipun tindak lanjut setelah kejadian tersebut , AL Zaidi mendapatkan perlakuan bagai seorang tahanan pembunuhan. Dia layak bangga dan mendongakkan kepala keatas dengan apa yang telah diperbuatnya. Dan dengan perbuatannya tersebut dia mendapatkan dukungan dari berbagai lapisan di dunia sebagai orang patriotik yang rela melakukan apa saja demi negaranya.

Read more...

Followers

link list

Page Rank Checker
Page Rank Checker is a free tool to check the page rank of any web site easily, without the need to install Google toolbar. This tool also allows you to display the page rank value of your web site right on your web pages.

Hosting

CO.CC:Free Domain Free Website Hosting

  ©Template by Dicas Blogger.